Jejak Yang Tertinggal: Indonesia
Channel Sejarah via Kereta
Seorang asing bersarung batik naik kereta Indonesia, berdiri di tempat sejarah terjadi, dan menceritakan kisah dari masa lalu yang menurutnya harus Anda ketahui.
Sejarah di Tempat
Penceritaan langsung di lokasi bersejarah yang dicapai dengan kereta api.
Suara Rakyat
Wawancara spontan dengan orang Indonesia biasa — menjelajahi pengetahuan, kebanggaan, kesenjangan, dan pendapat mereka.
Berpakaian dengan Niat
Busana host sebagai editorial diam-diam: batik, sarung, tailoring klasik — penolakan sadar terhadap fashion sekali pakai.
Turun di stasiun yang dilewati kebanyakan orang tanpa pikir dua kali, dia berjalan ke tempat di mana sesuatu yang luar biasa pernah terjadi, dan menceritakan apa yang terjadi di sana — dan mengapa itu penting. Lalu dia menemukan seseorang yang biasa — pemilik warung, tukang becak, guru — dan bertanya apa yang mereka tahu tentang itu.
Kadang mereka tahu segalanya. Kadang mereka tidak tahu apa-apa. Kedua jawaban itu menarik.
Jejak Yang Tertinggal: Indonesia adalah channel sejarah yang menyamar sebagai acara perjalanan, dibawakan oleh orang luar yang masuk begitu dalam hingga mulai menemukan hal-hal yang sudah dilupakan orang Indonesia. Setiap episode adalah perjalanan — dengan kereta, menembus waktu — dan sebuah argumen: bahwa sejarah Indonesia adalah salah satu kisah terbesar yang belum diceritakan di dunia.
Indonesia baru saja menyelesaikan pemilu satu hari terbesar dalam sejarah manusia, namun literasi sejarah yang mendasari kebanggaan nasionalnya sangat tipis. Generasi pasca-Reformasi tumbuh dengan kurikulum sekolah yang memperlakukan sejarah sebagai deretan tanggal dan narasi yang disetujui, bukan sebagai cerita yang hidup, diperdebatkan, dan menakjubkan. Mereka siap untuk channel yang memperlakukan mereka sebagai orang dewasa yang cerdas dan menyerahkan sejarah mereka sendiri sebagai sesuatu yang layak untuk dikepo-in.